Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Kealpaan pada Kelas Teori Sosial Kontemporer Perdana
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 07 October 2011
kategori : Sosial Kontemporer - 2 komentar

Senin minggu ini, saya telah melakukan “keteledoran”. Di sini, sekali lagi, betapa “informasi” menunjukkan perannya. Seakan membenarkan pernyataan, bahwa “siapa yang menguasai informasi, maka dia akan menguasai dunia !” Kecelakaan ini mengakibatkan, saya tidak berkesempatan untuk mengikuti kuliah perdana :( Padahal, ,mata kuliah kali ini akan banyak berbicara tentang teori-teori sosial kontemporer. Mulai dari struktural fungsional, hingga pada postmodern dan postkultural.

Namun di sisi lain, anehnya, kekayaan informasi pun, memberi sedikit jalan keluar. Karena “informasi” jua-lah, saya bisa memperoleh beberapa nomor telepon rekan satu angkatan. Dari sanalah, saya berkenalan dengan seorang teman sekelas, yang lucunya, dari perkenalan pertama itu, saya baru tahu, bahwa “beliau” adalah salah satu anggota KPUD Jawa Timur.

Kembali pada kuliah, mata ajaran teori sosial kontemporer ini diasuh oleh Prof. Ramlan Surbakti, PhD., sebuah nama besar di kampus orange. Siapa yang tak kenal Prof. Ramlan ? Meski demikian, sejujurnya, saya tidak terlalu mengenal beliau.

Pertama kali melihat syllabus-nya,”Wow…!!!” Banyak sekali bacaan yang harus kita tenggak dalam kuliah ini. :( Menurut Prof. Ramlan, agar teori sosial kontemporer dapat lebih mudah dipahami, kita harusnya sudah mengenal tentang sosiologi fakta sosial-nya Emile Durkheim, analisis klas-nya Karl Marx, dan social action-nya Max Weber.

Sehubungan dengan fakta sosial, Durkheim (dalam Curran and Takata, 2000) mengacu pada fakta-fakta, konsep, harapan yang datang bukan dari tanggapan individual maupun pilihan atau kecenderungannya, namun yang datang dari komunitas sosial yang telah melakukan sosialisasi pada setiap anggotanya. Meskipun kita mungkin merangkul perilaku masyarakat normatif dan berbagi nilai-nilai mereka, tapi kita dibatasi oleh keberadaannya.

Misalnya, ketika saya memenuhi kewajiban saya sebagai kakak, suami, atau warga negara. Atau ketika saya juga menjalankan kontrak saya, maka sebenarnya saya telah melakukan tugas-tugas yang didefinisikan secara eksternal kepada diri dan tindakan saya. Baik itu dalam hukum maupun adat.

Durkheim juga menjelaskan tentang pengawasan yang dilakukan pada setiap tindakan yang menyinggung perasaan, akan dilalui dengan cara mengawasi apa-apa yang dilakukan terhadap perilaku warganya, dan memberi hukuman yang sesuai.

Durkheim membawa pemahaman konsiderasi kepada konsep bahwa badan kita, dalam hal fakta sosial, sangat terbatas oleh konteks struktural, dimana kita akan menemukan diri kita. Durkheim mengakui adanya biaya ketidaksesuaian, dan kemampuan dari kelompok sosial untuk melaksanakan, adalah suatu harapan normatif.

Kategori fakta-fakta sosial itu terdiri dari cara bertindak, berpikir, dan merasakan, eksternal kepada individual, memberkahi dengan kekuatan paksaan, sebagai penjelasan di posisi mana mereka bisa mengontrolnya.



2 Komentar

1. Nuzulul

pada : 18 October 2011

"wah mantap2.."


2. yuniawan

pada : 18 December 2011

"tenkyu tenkyu. Salam sukses"


Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :