Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Ilmu Pengetahuan Sosial yang Non Positivis
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 14 October 2011
kategori : Metode Sosial - 0 komentar

Ini merupakan tatap muka pertama dengan Prof. L. Dyson P., di kelas. Padahal, sebenarnya ini adalah pertemuan kedua dengan rekan yang lain. Dan karenanya, saya sempat terkena sindiran. Dan sebaiknya, ini dapat diolah sebagai suatu bentuk self motivation. Seperti biasa, agar bisa menyerap apa yang disampaikan, sebagai murid Prof. Dyson kita harus pandai-pandai dalam mengikuti alur pikirnya.

Berbicara tentang penelitian sosial, akan dikenal dikotomi antara penelitian kuantitatif dan kualitatif. Oleh beberapa peneliti, kuantitatif akan identik dengan istilah Positivisme. Sementara penelitian kualitatif, diidentikkan dengan (paradigma) Non Positivisme. Oleh Auguste Comte, positivisme disebut hanya menerima hal-hal yang nyata dan menolak yang berbau metafisika atau teologik. Dikatakan oleh Prof Dyson, positivist bersifat mutlak dan biasanya dilengkapi dengan rumus-rumus statistik. “Positivis itu ada barangnya, dan juga empiris !”, demikian ujar Prof. Dyson.

Di sisi lain, menurut Prof. L. Dyson, paham non positivist mengakui bahwa sikap seseorang selalu ada benarnya. Dalam filosofi ilmu pengetahuan, ilmu digunakan untuk melakukan prediksi. Jadi sebenarnya, ilmu itu boleh salah ! Namun, peneliti kualitatif, tetap memiliki rambu-rambu. Karenanya, ia dilarang untuk melakukan pabrikasi data atau mengarang data penelitiannya.

Sementara dikatakan oleh Ashworth (1997), non-positivist itu merupakan penelitian dari pelbagai jenis, meskipun seringkali diperlakukan sebagai kesatuan. Contohnya adalah penelitian deskriptif (fenomenologis), yaitu penelitian yang berusaha untuk memberikan  faithful account pada ranah pengalaman atau aspek dari ‘life world’. Lalu juga dikenal penelitian interpretatif (hermeneutik) yang bertujuan untuk menunjukkan cara membuat sense of experience. Ada pula analisis wacana, yang menarik keluar model pemikiran secara sosial berikut tindakan yang dapat mengungkapkan diri dalam data-data kualitatif.

Penelitian kualitatif setidaknya memiliki tiga sasaran. Pertama, penelitian kualitatif berusaha untuk memahami perilaku dalam setting yang natural. Sementara dua sasaran lain yang hendak digapai, adalah mencari pemahaman tentang suatu fenomena dari perspektif partisipan penelitian. Berikutnya, penelitian ini juga bermaksud untuk memahami makna dari seseorang yang diperoleh dari pengalamannya. Menurut Prof. L Dyson, fenomena bertanya tentang fakta itu benar atau tidak ? Penelitian kualitatif, juga berisi tentang interpretasi.

Peneliti kualitatif, mencoba untuk menggunakan apa yang disebut sebagai metode naturalistik, berupa : wawancara, observasi, etnografi, observasi partisipatif, dan focus groups. Masing-masing metode berusaha untuk memahami perspektif dari partisipan penelitian dalam konteks kehidupan sehari-hari mereka. Ini berarti bahwa peneliti kualitatif, fokus pada pengajuan pertanyaan-pertanyaan luas yang memungkinkan responden untuk menjawab dengan istilah mereka sendiri (their own word).

Metode ini memungkinkan peneliti mencoba untuk memenuhi kualifikasi pemahaman mereka selama proses penelitian berlangsung, melalui pertanyaan-pertanyaan menyelidik yang dapat menelusuri lebih jauh. Selain itu, metode seperti observasi, memungkinkan peneliti untuk mengamati orang-orang dalam natural setting mereka,terutama ketika berada di tempat umum. Hal ini dapat menghasilkan pemahaman yang lebih luas terhadap perilaku orang dalam interaksinya.

Penelitian kualitatif kadang-kadang dikatakan memiliki tujuan untuk memahami sampel penelitian (the sample studied), dan bukan melakukan generalisasi atas sampel terhadap populasinya. Pada akhirnya, hasil penelitian kualitatif dapat juga diterapkan pada setting yang lain, sepanjang memahami batasan-batasannya.

Penelitian Kualitatif dan Etnografi

Menurut Brian A. Hoey, Ph.D. (lihat what is ethnography ?), hampir setiap proyek penelitian kualitatif menghadirkan etnografi. Ini bertujuan untuk menyediakan sesuatu yang detail. Termasuk dalam deskripsi mendalam yang terjadi dalam praktik kehidupan sehari-hari. Hal ini biasa disebut sebagai thick description (dalam Geertz).

Dikatakan oleh Hoey, penggunaan istilah kualitatif dimaksudkan untuk membedakan jenis penelitian dalam social science dari sekedar "kuantitatif" atau biasa disebut sebagai penelitian yang berorientasi pada statistik. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif, terkadang terlihat dekat, meski padahal keduanya memiliki tujuan yang berbeda.

Kembali kepada pendekatan etnografi dalam ilmu pengetahuan sosial, Hoey menyatakan bahwa etnografi itu merupakan proses penelitian kualitatif atau metode dan produk yang bertujuan untuk membuat interpretasi budaya.

Menurut Dr. L. Dyson, etnografi terbagi menjadi etnografi klasik dan interpretatif. Yang klasik mengandung obyek yang rasional, sementara interpretatif dapat lebih diperjelas oleh Geertz. Dalam Hayat dan Karya (work and lives) dijelaskan apa beda antara writer dan author.

Dr. L Dyson pada beberapa waktu yang lalu menyatakan, bahwa masalah utama yang dipersoalkan oleh Geertz adalah apakah suatu karya itu harus obyektif sebagaimana adanya di "lapangan", ataukah seorang penulis sangat terpengaruh oleh perasaan dan sikapnya sendiri ? Untuk itu, Geertz membedakan antara penulis (writer) dan pengarang (author).

Dijelaskan oleh Dr. Dyson, istilah penulis tampaknya menunjukkan bahwa suatu karya itu semata-mata berupaya mendeskripsikan kenyataan obyektif di lapangan, sedangkan pengarang adalah bagaimana upaya seseorang mampu mempengaruhi pembacanya seolah-olah mereka ikut masuk dan berada di tengah-tengah masyarakat, dimana peneliti yang bersangkutan pernah hidup bersama dengan masyarakat yang ditelitinya.

Istilah pengarang disini mungkin dapat disejajarkan dengan seorang penulis novel, tetapi antropologi memang tidak menulis novel yang cenderung bersifat cerita fiksi, melainkan suatu fenomena dan dinamika yang sungguh terjadi. Geertz membedakan penduduk asli, pengarang, dan pembaca memiliki perannya masing-masing yang saling terkait.

"Berada di sana" merupakan ilustrasi ketika seorang penulis sedang mengumpulkan data dan hidup bersama dengan penduduk lokal, sedang "berada di sini" untuk memberikan istilah ketika seorang penulis telah kembali ke tempat tinggalnya semula, dan mulai merenungkan kembali segala pengalamannya, dan menulis segalanya, kemudian tulisan itu berada di tangan para pembacanya (pembaca tertarik atau tidak?). Adalah tugas pengarang membuat pembacanya menjadi tertarik dan mengerti apa yang telah diungkapkan oleh sang pengarang.

Lain dari itu, ada pengakuan terhadap pandangan semiotic view of culture dengan analisa teks-nya. Menurut Geertz, interpretasi dalam etnografi merupakan sebuah wacana sosial. Berusaha untuk menyelamatkan "apa yang dikatakan" pada suatu wacana. Tajam dalam menginterpretasikannya, meski memiliki peluang yang tipis, dan tetap berusaha untuk memberikan perhatian lebih dengan memperbaiki "said" tersebut.

Menurutnya, "Doing ethnography is like trying to read (in the sense of ‘construct a reading of) a manuscript!" Perilaku manusia dianggap sebagai symbolic action, seperti halnya bersuara dalam pidato, mewarnai dalam melukis, menggaris dalam menulis, atau bunyi-bunyian dalam bermusik, yang menandakan pertanyaaan tentang apakah budaya adalah pola yang terhubung ataukah sebuah bingkai pikiran ? 

Suatu hal yang menarik untuk dicatat, bahwa kita sejatinya tidak dapat benar-benar menjadi importir budaya atau pun memahaminya. “We cannot find our feet with them !” demikian ujar Wittgenstein.

Dikatakan oleh Hoey, seorang etnografer itu seakan berlari untuk melampaui dari hanya sekedar reporting events, dan ia menuliskan pengalamannya dengan detail. Geertz menyebutnya sebagai "webs of meaning". Peneliti secara khusus berusaha untuk menjelaskan jaring-jaring makna, konstruksi budaya, dimana manusia hidup dalam kesehariannya.

Menurut Hoey, etnografi menghasilkan pemahaman budaya melalui representasi atas perspektif emik, atau apa yang digambarkan sebagai insiders point  of view. Penekanannya ada pada critical categories. Memungkinkan makna yang muncul ketimbang memaksakan model-model yang sudah ada. Sementara etik, berorientasi pada analitis terhadap pengalaman.

Padahal sebuah pemahaman etnogradi, dibangun melalui kedekatan eksplorasi terhadap beberapa sumber data. Menggunakan sumber-sumber data tersebut sebagai pondasi, sehingga seorang etnografer akan bergantung pada suatu analisis kerangka budaya.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :