Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Filsafat Ilmu Pengetahuan Sosial, Suatu Pengantar
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 18 October 2011
kategori : Filsafat Sosial - 1 komentar

Pertemuan pertama dengan Prof. Soetandyo Wignjosoebroto, beliau banyak berbicara tentang filsafat ilmu sosial. Kesederhanaan dan dedikasi Prof. Tandyo, membuat kuliah kali ini menjadi rileks dan membumi. Berat namun meresap hingga ke serat :)

Paradigma digunakan dalam science untuk menjelaskan konsep yang berbeda. Thomas Kuhm mendefinisikan paradigma (scientific paradigm) sebagai penghargaan ilmiah yang diakui secara universal, untuk sementara waktu, memberikan masalah-masalah model dan solusi bagi komunitas peneliti. Dalam keilmuan, ini berbicara tentang bagaimana suatu eksperimen dilakukan, dan peralatan apa yang tersedia untuk digunakan dalam penelitian.

Contoh sederhana tentang paradigma, dipaparkan dalam Wikepedia, sebagai berikut. Paradigma dianalogikan sebagai kebiasaan penalaran (habit of reasoning). Dalam bahasa yang biasa kita kenal, dikenal istilah "the box" atau "thinking outside the box" Berpikir di dalam the box ini, dianalogikan sebagai normal science.

The box merupakan pemikiran dalam normal science, sehingga the box ini dianalogikan dengan paradigma. Sementara "thinking outside the box" oleh Kuhn, disebut revolutionary science. Ini (revolutionary science) biasanya tidak berhasil, atau sangat jarang bisa menyebabkan lahirnya suatu paradigma baru. Namun jika berhasil, revolutionary science dapat menyebabkan perubahan dalam skala besar pada pandangan dunia ilmiah. Dan ketika skala besar itu diimplementasikan dan diterima oleh mayoritas, maka akan dapat menjadi "the box" dan science (ilmu pengetahuan) akan terus memberikan progress terhadapnya.

Menurut Prof. Tandyo, peserta program Doktor akan banyak berbicara tentang paradigm sebagai suatu perspektif dalam berpikir. Karenanya, melalui paradigma, mahasiswa harus kaya akan pemikiran !

Sehubungan dengan kuliah Filsafat Ilmu Sosial ini, menurut Prof. Tandyo sebenarnya berbicara tentang Filsafat Ilmu Pengetahuan Sosial. Menurutnya, ilmu itu adalah nalar, sesuatu yang masuk akal (kebenaran yang masuk akal). Terbukti melalui hal-hal yang bersifat empirik.

Dalam bahasa asalnya, science merupakan teknologi yang digunakan untuk kemakmuran dunia. Sementara ilmu, berasal dari bahasa Arab, yaitu “ilm” yang berarti memahami atau mengerti, namun cenderung ke urusan akhirat. Sementara untuk science, menurut Prof. Tandyo, akan lebih tepat jika menggunakan sains yang berarti ilmu pengetahuan. Berasal dari kata dalam bahasa Latin, yaitu “scire”, yang dalam bahasa Inggris berarti “to know”.

Menurut Prof. Tandyo, sains diperoleh melalui prosedur dan metodologi tertentu. Ditangkap oleh panca indrawi yang dimiliki manusia. Empiris, berarti bisa ditangkap oleh penglihatan. Dan rasional, berarti bisa diterima oleh akal pikiran.  Sementara orang yang mempertanyakan bukti empirik, biasa disebut sebagai scientist (ilmuwan).

Dunia indrawi bisa dibayangkan, menjadi dunia imajinasi. Sementara empiris itu rasional, dan memiliki hubungan sebab akibat. Antara teori dan data dipisahkan dalam garis dunia indrawi dan dunia imajinasi. Relasi antara data dan teori adalah keberadaan induksi. Sementara antara teori dan data, terdapat hipotesis.

Misalnya, "ada gula ada semut" yang semula hanya khayalan, ketika bisa ditangkap oleh indrawi, akan menjadi simpulan yang masuk akal, dan kemudian menjadi rasional.

Saintifik

Adapun tahapan kerja (metode) saintifik :
 *) Observasi (What ?) : Menghasilkan deskripsi
 *) Analisis Logis (Why ?) : Menghasilkan eksplanasi kausalitas atau sesuatu yang korelatif
 *) Intervensi (How ?) : Mengintervensi hubungan untuk mengontrol penyebab (kausa), guna memproduksi dan/atau mereproduksi akibat (efek), sehingga menghasilkan preskripsi.

Preskripsi sendiri, berarti petunjuk pelaksanaan, yang merupakan buah dari suatu pendayagunaan. Setelah mencari ciri pembeda (What), kemudian menemukan kausalitas  (Why), maka dihasilkan lah sebuah preskripsi.

Jika dianalogikan dengan bangku kuliah. Mahasiswa S1 cukup melakukan collecting data, melakukan koding, menyusun atau mengolah, dan kemudian membuat deskripsi. Mungkin karena deskripsi ini, maka tugas akhir mereka, kerap disebut skripsi :)

Kemudian untuk mahasiswa S2, menurut Prof. Tandyo, mulai melakukan analisis, mengeksplanasi. Apa merubah apa ? Apa berkorelasi dengan apa ? Yang sejatinya, menyimpan hubungan kausalitas, yang kemudian diintervensi. Saat diintervensi, akan diketahui How -nya.

Lain dari itu, kembali pada ilmu pengetahuan, menurut Prof. Tandyo, ilmu pengetahuan itu science, dan karenanya baik itu deskripsi, analisis, maupun produksi akibat, akan bergerak untuk menemukan "sesuatu". Penemuan itu, kemudian menghasilkan science (ilmu pengetahuan).

Menurut Prof. Tandyo, sains itu pouvoir yang artinya kewenangan. Jadi, sains tidak berbicara tentang baik atau buruk. Apalagi dalam filsafat, dijawab apapun, tidak akan masalah, alias okay !

Kausalitas

Seperti dikatakan oleh Prof. Tandyo, hard science dengan mudah ditemui pada ilmu fisika. Merupakan temuan kausalitas yang berlaku universal dengan tingkat keniscayaan yang tinggi. Dan ini menurut Prof. Tandyo menganut suatu yang berbau Prediktif.

Prof. Tandyo menjelaskan, bahwa kausalitas itu asimetrik (searah). Penerapannya kepada obyek makhluk hidup. Mengalami komplikasi, sehubungan dengan hubungan yang simetrik (ada timbal balik atau korelasi), dan terjadi karena pengaruh variasi lingkungan yang kondisional.

Lantas, bagaimana penerapannya ke obyek kehidupan ? Seperti diketahui, obyek kehidupan manusia, tidak hanya mencakup anorganik dan organik saja, tetapi supra organik. Supra organisme, merupakan hasil cipta, karya rasa.

Kajian Saintifik

Aplikasi saintifik, dimulai dengan menyadari akan pentingnya keberadaan data yang terukur. Dan hal ini diperoleh dari alam empirik. Setelah itu, kita bisa memilih, akan membangun teori ? atau menguji teori ? Dalam hal ini, diakui akan pentingnya menemukan asas (dalil atau hukum). Karena untuk melakukan penalaran, diperlukan hukum logika.

Dijelaskan oleh Prof. Tandyo, kajian tak bernyawa, meliputi anorganisme, yaitu : kajian astronomi, fisikia, kimia, dll. Sementara kajian hayati (ada skin out - skin in), meliputi kajian biologi, organisme, dll. Fungsi skin-out menyangkut realitas hubungan dnegan dunia yang menyelubunginya, termasuk tindakan etis yang mengalir dari relasi yang ada. Sementara skin-in lebih memiliki kedalaman, mengarah pada pikiran yang sesuai dengan fokus utamanya.

Untuk kajian sosial, meliputi kajian tentang manusia dan masyarakatnya. Social science juga dikenal sebagai scientific positivism. Perintis kajian sosial, antara lain : Madame de Stael (Dikenal sebagai novelist dan philosopher asal France. Konon IQ-nya mencapai 180); Henri de Saint-Simon (Dikenal sebagai French social reforme); Auguste Comte (Dikenal sebagai bapak pendiri aliran positivisme dalam ilmu-ilmu sosial).



1 Komentar

1. nuzulul

pada : 18 October 2011

"salam kenal, thanks kunjungannya"


Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :