Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Aspek Konteks Sosial yang Melatarbelakangi Teori Sosial
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 18 December 2011
kategori : Sosial Kontemporer - 0 komentar

Ini adalah tatap muka pertama saya bersama Prof. Ramlan Surbakti. Dari tatap muka itu, saya menjadi tahu, bahwa nama Surbakti ternyata adalah nama sebuah desa, dimana asal-usul ayah Prof. Ramlan berasal. Tepatnya, berada di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatera Utara. Meski berasal dari sana, sebenarnya, orang tua Prof. Ramlan sudah tidak tinggal di desa tersebut. Namun secara kultural, Prof. Ramlan masih memiliki tanah di desa tersebut.

Kembali pada materi perkuliahan Teori Sosial Kontemporer, disebutkan bahwa anatomi teori social diperlukan untuk membentuk ilmu sosial. Artinya, anatomi teori sosial, dalam hal ini, berperan sebagai parameter bagi unsur-unsur yang membentuk ilmu sosial. Tanpa ini, menurut Prof. Ramlan, teori sosial tidak akan ada !

Sementara unsur-unsur pembentuk tersebut, diterangkan terdiri dari 14 aspek, dimana aspek tersebut ditujukan untuk mencari korelasi antara teori dengan karakteristik permasalahan yang ada di masyarakat.

Aspek pertama, yaitu : Konteks Sosial yang Melatarbelakangi. Dalam hal ini, dapat dijelaskan sebagai Konteks Sosial dan Politik yang dapat menyebabkan perubahan sosial. Perubahan sosial yang dimaksud, dapat berupa revolusi sosial, politik, ekonomi dan industri.

Revolusi di sini, diartikan sebagai perubahan besar yang mengakar dan mendasar. Mengganti yang sudah ada, dan cenderung melibatkan kekerasan, baik itu fisik maupun simbolik. Kekerasan ini kemudian, juga akan memakan korban.

Sebagai contoh, dapat diambil pada apa yang terjadi dalam Revolusi Sosial di Prancis. Revolusi Prancis, disebut pecah pada musim panas tahun 1789. Sebagai background, kala itu Prancis menganut sistem politik Monarki (feodalisme), di bawah kuasa kerajaan yang absolute. Dalam hal ini, raja dapat bertindak sewenang-wenang (L'etat c'est moi =Negara adalah saya).

Revolusi Prancis diambil dari historyguide.org

Seluruh tanah yang ada, menjadi milik Kerajaan. Kala itu, gereja tampil mendominasi pada bidang ekonomi, politik dan budaya. Bangsawan dan rohaniawan banyak diberi hak-hak istimewa. Lambat laun, hal ini menimbulkan penderitaan bagi rakyat. Petaka muncul, tatkala pajak dan sewa tanah dinaikkan. Konon, kenaikan ini juga disebabkan oleh bangkrutnya kerajaan, yakni tatkala Kerajaan mulai mengalami defisit.

Saat itu, kalangan intelektual melihat ketidakadilan ini, dan kemudian menyulut lahirnya pemberontakan. Diantaranya adalah Voltaire, yang mendengungkan kebebasan dalam menyatakan pendapat. Voltaire juga dikenal menentang dominasi gereja. Lalu ada pula, Montesquieu, yang memelopori pemisahan kekuasaan Negara. Lebih dikenal dengan trias politica, membagi Negara kepada legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Dalam hal ini, kegelisahan akibat diperlakukan tidak adil tersebut, agar meluas, perlu adanya pemicu. Pemicu ini tidak harus direncanakan, namun bisa juga berbentuk spontanitas. Bahkan konon, penyerangan terhadap penjara Bastille, sebenarnya disebabkan oleh ketidaksengajaan akibat salah pengertian. Pada ujungnya, terjadi kristalisasi keinginan rakyat Prancis yang kemudian melahirkan jargon Libertie (kebebasan), Egalite (persamaan) dan Fraternity (persaudaraan).

Saat Revolusi Prancis kemudian membawa dampak, maka terjadilah Situasi Anomie. Secara sederhana bisa dikatakan sebagai situasi, dimana pada saat itu tidak ada aturan. Terjadi karena, peraturan yang lama dibuang, namun di saat yang bersamaan, peraturan yang baru belum siap. Secara lugas dapat diartikan negara sedang dilanda kecemasan akibat kurangnya regulasi dan kontrol sosial yang ada. Bahkan negara seakan sedang terisolasi, akibat minimnya standar moral dalam masyarakat.

Nah, latar belakang tersebut, kemudian menjadi pemicu kelahiran suatu teori sosial. Emile Durkheim (1858-1917) misalnya, melahirkan konsep tentang Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik. Hal ini terjadi, sehubungan dengan integrasinya dalam masyarakat.

Dalam Solidaritas Mekanik, ada sistem nilai yang dihayati dan dipatuhi bersama. Sudah langsung jalan, seperti halnya mesin. Tersosialisasi secara langsung, sejak lahir. Nilai maupun norma yang ada, dikukuhkan dalam rutinitas. Meneguhkan dan bisa terintegrasi. Pada akhirnya, masyarakat dan orang-orang yang terlibat, dapat menjadi patuh. Dihayati bersama, kemudian ditegakkan, dan kemudian dapat menyatukan.

Sementara Solidaritas Organik, memiliki ketergantungan antar unsur, dan berfungsi secara sistemik. Solidaritas jenis ini, terintegrasi dengan masyarakat, dikarenakan adanya ketergantungan antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat. Secara struktural-fungsional, terdapat unsur-unsur atau peran-peran yang ada dalam masyarakat. Karenanya, masyarakat bisa survive. Makin modern masyarakat, maka peran yang ada akan kian banyak dan ter-spesialisasi.

Dalam kehidupan di masyarakat, tugas Negara adalah membantu agar setiap warga Negara menjadi individu yang bisa bersaing. Lantas, bagaimana dengan nilai atau norma yang belum terlembaga ? Dapat dijelaskan, bahwa nilai-nilai yang masih abstrak, diterjemahkan agar menjadi norma, kemudian dituangkan dalam hukum, dan melalui hukum itu, segala yang berhubungan dengan ranah publik, diatur !



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :