Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Konteks Sosial dan Revolusi Industri
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 18 December 2011
kategori : Sosial Kontemporer - 0 komentar

Masih sehubungan dengan satu di antara ke-14 aspek dalam anatomi teori sosial, sekedar mengingat, untuk mengevaluasi suatu teori sosial, diperlukan parameter yang lengkap. Parameter ini, dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu teori social, sehingga memudahkan bagi siapa saja yang ingin memahami suatu teori sosial.

Kita juga masih berada di seputar area parameter pertama, yakni sehubungan dengan Kontek Sosial yang Melatarbelakangi lahirnya suatu Teori Sosial. Konteks sosial, pada umumnya berupa perubahan sosial yang besar yang disebabkan oleh revolusi.  Kali ini, kita akan berbicara tentang Revolusi Industri yang terjadi di Inggris.

Revolusi Industri terjadi pada akhir abad 18 dan menginjak awal abad ke-19. Disebut revolusioner, karena mampu merubah kapasitas produksi dari Inggris, Eropa, hingga Amerika Serikat. Revolusi yang dimaksud, tidak sekedar berbicara tentang mesin-mesin baru, asap pabrik, peningkatan produktivitas dan peningkatan standar hidup. Lebih dari itu, kejadian ini disebut mampu merubah masyarakat Inggris hingga ke akar-akarnya. Tidak ada satu pun, kala itu, yang tidak terpengaruh oleh revolusi industri. Bahkan kejadian ini, disebut sebagai asal-usul Western Society yang dikenal modern.

Pada awalnya, kepemilikan tanah dan status sosial di Inggris, berada di tangan para bangsawan. Namun ketika lahir penemuan-penemuan baru di bidang teknologi, muncul aneka potensi bisnis yang mulai nampak. Karenanya, timbul ide untuk melakukan produksi masal. Dalam hal ini, produksi masal membutuhkan banyak tenaga kerja.

Guna memenuhi kebutuhan tersebut, pemilik pabrik mulai mencari tenaga kerja di pedesaan. Saat itu, tanah-tanah di pedesaan dikuasai oleh Lord. Mereka ini semacam tuan tanah, seperti halnya raja-raja kecil yang berkuasa atas tanah pertanian atau perkebunan yang begitu luas. Setiap Lord, memiliki hamba (budak) yang dipekerjakan untuk mengelola tanahnya. Mereka (budak) diberi makan, dan menetap di rumah sang majikan.

Ketika tersiar tawaran dari kota, tentu saja mereka (para hamba) menjadi tertarik. Mereka diiming-imingi oleh kebebasan dan kesenangan yang akan mereka peroleh jika bekerja di kota. Dengan bekerja di pabrik, mereka dijanjikan akan memperoleh kebebasan dan uang cash sebagai bentuk gaji atau upah.

Sebelumnya, mereka tidak mengenal gaji, lebih-lebih berbicara tentang kebebasan. Hubungan  mereka hanyalah relasi antara hamba dan tuan. Tawaran ini, kemudian berdampak pada larinya hamba-hamba di pedesaan, coba melepaskan diri dari kuasa sang majikan (Lord), untuk kemudian bekerja sebagai buruh di perkotaan (pabrik). Dalam hal ini, menurut Prof. Ramlan, telah terjadi tarik menarik antara desa sebagai push factor, dan kota sebagai pull factor.

Dijelaskan oleh Prof. Ramlan, dalam ciri-ciri industrialisasi : jumlah tenaga kerja pada sektor industri, lebih besar daripada mereka yang ada di sektor pertanian. Ciri yang lain; adanya perpindahan dari sektor pertanian kepada industri. Disamping itu, kebutuhan rumah tangga, mulai diisi oleh produk industri, dan bukan oleh produk pertanian.

Dari latar belakang tersebut, baru kemudian Karl Marx (1818-1883) melihat adanya dua klas, yakni kaum buruh dan elite. Buruh, diidentifikasi sebagai pelayan sosial yang memiliki fasilitas terbatas. Sementara kaum elite, adalah mereka yang hidup mewah dan berkecukupan.

Unsur-unsur masyarakat yang teridentifikasi : Siapa yang memiliki alat dan sarana produksi ? Dalam hal ini, terdapat dua peran, yakni mereka yang memiliki alat dan sarana produksi, dan mereka yang hanya memiliki modal tenaga. Di sini Karl Marx melihat, ada kesadaran palsu. Di mana, antar kedua peran, sebenarnya mereka saling memusuhi. Kenyataannya, ada pihak-pihak yang mulai merasa dirugikan.

Untuk mengungkap kesadaran palsu ini, diperkukan kalangan intelektual. Melalui mereka, akan terjadi proses penyadaran, hingga menyebabkan terjadinya kesadaran klas. Kesadaran klas, akan menjadi cikal bakal terjadinya perubahan. Tuntutan terhadap suatu perubahan. Menurut Karl Marx, hal ini disebut sebagai potential conflict yang dapat menyebabkan terjadinya revolusi.

Sementara revolusi yang dimaksud, berupa perubahan tatanan masyarakat. Misalnya, telah terjadi perubahan unsur kebebasan, yang dulunya hanya berangkat dari seorang hamba, kini menjadi buruh. Meski berstatus sebagai buruh, namun mereka pada awalnya merasa berhasil meraih kebebasannya. Khususnya, sehubungan dengan lepasnya mereka dari praktik perbudakan di perkebunan.

Lain dari itu, dikatakan oleh Prof. Ramlan, revolusi industri dapat juga menjadi inspirasi atas kelahiran teori pembangunan tentang industrialisasi. Pembangunan, merupakan perubahan yang direncanakan. Namun, pembangunan itu tidak selalu menghasilkan seperti yang direncanakan (un intended qonsequences).

Sementara ilmu sosial, menurut Prof. Ramlan, adalah multi dimensional. Ini dikarenakan, kita tidak mungkin mampu mengontrol seluruh variable yang ada. Ilmu sosial ini, coba menggandengkan antara paradigma interpretatif dan paradigma positivis.

Dikatakan oleh Prof. Ramlan, setiap teori sosial hadir dari konteks sosial. Konteks sosial, dapat berupa struktur, konflik dan pembagian klas. Jika dikaitkan dengan revolusi industri, revolusi ini berbicara tentang sistem ekonomi. Sementara klas, berbicara tentang penggolongan masyarakat, berdasarkan kepemilikan sarana dan prasarana industri.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :