Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Revolusi Pertanian dan Konteks Sosial
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 19 December 2011
kategori : Sosial Kontemporer - 0 komentar

Satu peristiwa besar yang terjadi yang menjadi Konteks Sosial yang melatarbelakangi terjadinya suatu Teori Sosial, adalah Revolusi Pertanian, atau lebih dikenal dengan istilah Revolusi Hijau. Menurut Prof. Ramlan, hal ini diawali ketika dengan (modal) luas tanah yang sama, kemudian diusahakan agar memperoleh hasil yang lebih besar. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produksi pangan.

Revolusi hijau ini merupakan bagian dari penelitian, pengembangan dan transfer teknologi. Terjadi antara tahun 1940an sampai dengan akhir tahun 1970an. Pengembangan pertanian, konon diawali pada tahun 1943 di Mexico oleh Norman Borlaug. Pada tahun 1959 ini menjadi institusi reset informal, dan baru pada tahun 1963 secara formal menjadi bernama CIMMYT (The International Maize and Wheat Improvement Center).

Pada tahun 1961, India mengalami kelaparan masal. Hal ini kemudian yang menyebabkan, Menteri Pertanian mereka membawa India untuk bekerjasama dengan CIMMYT. India memulai program revolusi hijaunya sendiri melalui pemuliaan tanaman, pengembangan irigasi, dan pembiayaan bidang agrokimia.

Pada tahun 1960, pemerintah Filipina bekerjasama dengan Ford dan Rockefeller Foundation mendirikan IRRI (International Rice Research Institute). Pada tahun 1962, IRRI mengawinkan beras jenis Dee-Geo-woo-gen dengan Peta. Pada tahun 1966, tercipta kultivar baru, yakni IR8. Meski IR8 memerlukan penggunaan pupuk dan pestisida, namun menghasilkan substansi yang lebih tinggi ketimbang kultivar tradisional. Produksi padi tahunan di Filipina meningkat dalam dua decade, namun penggunaan pestisida berat mengurangi jumlah spesies ikan dan katak yang ada di sawah.

Menurut Prof. Ramlan, ada konsekuensi yang terjadi akibat kelahiran Revolusi Hijau ini. Untuk meningkatkan produksi pangan, maka harus digunakan bibit unggul yang tentu saja akan menggusur keberadaan bibit lokal.

Buah dari revolusi hijau ini, buruh tani menjadi kehilangan pekerjaan. Produksi masal, membuat petani menjadi terpinggirkan, akibat datangnya aneka intervensi. Pada akhirnya, mereka lari ke kota. Dengan bekal keterampilan yang buruk, mereka mengisi sektor informal di kota. Dan pada ujungnya, terciptalah pemukimam kumuh di perkotaan.

Dengan latar belakang ini, kemudian Cliffort Geertz (1926-2006) menyampaikan tentang Inklusi Pertanian. Menurut Geertz, berapapun penduduk di perkotaan, sebenarnya pertanian di desa mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka (orang kota). Di sini Geertz melihat, ada proses membagi kemiskinan. Pemilik tanah memiliki tanggung jawab secara kultural (patron-klien).

Sebelum revolusi industri, pemilik tanah memiliki tanggung jawab kepada para buruh tani mereka. Karenanya, meski buruh tani tidak memiliki tanah, mereka masih bisa hidup. Di sini, seakan terjadi sharing kemiskinan.

Dampak dari revolusi pertanian ini, akhirnya mereka menjadi Bertani secara Rasional, bahkan cenderung ke arah komersial. Akibatnya, para pemilik tanah, berusaha untuk mengurangi jumlah buruh taninya. Sebagai pelengkap, di Indonesia misalnya, kala itu ada Koperasi atau BRI yang siap melayani kebutuhan modal bagi para petani.  

Tanaman yang ditanam, akan lebih menguntungkan jika memiliki tanah yang luas. Dalam hal ini, terjadi pergeseran struktur penguasaan tanah. Meski sebenarnya tanah dikenal sebagai “kehormatan” bagi mereka (petani desa), namun karena tanah sudah memiliki nilai ekonomis, maka keyakinan itu pun menjadi mulai mengikis. Pada akhirnya, mereka menjual tanahnya kepada investor yang mulai merajai industri pertanian ini.

Dampak yang terjadi, revolusi pertanian mampu menyingkirkan buruh tani. Di sisi lain, kota dituntut untuk segera menyediakan sektor informal. Sehubungan dengan itu, akan tercipta sebuah Polarisasi Sosial.

Polarisasi Sosial ditunjukkan melalui kepemilikan tanah. Ketika penguasaan terhadap tanah kian tajam, maka terjadi kesenjangan. Mereka yang tidak punya tanah, kini tidak memiliki alternatif. Namun kejadian ini tidak menjadi sebuah klas social, dikarenakan : (1) tidak adanya kesadaran klas dan (2) tidak adanya organisasi yang memperjuangkan.

Dalam revolusi pertanian (hijau), aktornya adalah pemilik tanah saja. Hal ini berbeda dengan revolusi sosial, dimana ada kalangan intelektual yang kemudian melakukan proses penyadaran. Khususnya tentang kesetaraan dan kebebasan.

Namun hal positif yang terjadi akibat revolusi hijau ini, di antaranya : adanya kemajuan pengetahuan, kebutuhan hidup dapat dipenuhi dengan mudah, serta terciptanya swasembada pangan.

Secara umum, revolusi pertanian ini, dapat dikatakan sebagai pengendalian sistem pertanian yang mampu merubah nilai-nilai dan perilaku.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :