Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Apa itu Teori?
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 07 April 2012
kategori : Bacaan Sosial - 0 komentar

Pertemuan pertama dengan Prof. Dr. Hotman Siahaan berlabuh di semester II ini dalam Mata Kuliah Bacaan Masalah Sosial. Dulu, Prof. Hotman inilah yang membubuhi tanda tangan ijazah S1 tatkala ia baru saja terpilih sebagai Dekan FISIP Universitas Airlangga. Dalam mata kuliah ini, ada beberapa bacaan yang disodorkan sebagai buku pegangan. Di antara yang menonjol adalah buku setebal bantal berupa Handbook of Social Theory yang diterbitkan oleh SAGE Publications, karangan Ritzer bersama Barry Smart. Lalu ada lagi karangan George Ritzer seorang, yang berjudul Sociological Theory. Buku setebal 1336 halaman ini dipaksa untuk menjadi teman tidurku kemudian.

Meski ini mata kuliah bacaan, yang menarik, Prof. Hotman berkata, ”Jangan membaca, karena anda ingin membaca. Carilah pertanyaan!”. Wah, ternyata keinginan untuk membaca buku pun, tak cukup untuk membuat diri kita memahami tentang isi buku tertentu. Setidaknya ada 20an buku  yang “harus” kita “baca” pada kuliah semester ini. “Lakukan tamasya intelektual!”, demikian tukas Prof. Hotman dalam kuliahnya.

Kuliah diawali dengan pertanyaan mendasar, yakni tentang “Apa itu teori?”. Dikatakan oleh Prof. Hotman, mahasiswa S3 dituntut untuk mampu melakukan refleksi teoritik. Menurutnya, S3 bukan sekedar melakukan research report. “Itu hanya sebagai pintu masuk kepada refleksi teoritik, tidak hanya sekedar mengambil kesimpulan. Anda dituntut untuk memberi sumbangan kepada teori!” imbuhnya.

Menurut Prof. Hotman, hendaknya kita dapat memahami beda antara cara berpikir teoritik dengan "mind on the street".  Yang dimaksud "mind on the street" adalah apa yang dilakukan oleh orang awam. Pernyataan atau pendapat yang biasa diberikan oleh orang awam di warung-warung kopi, saat menyikapi suatu realitas sosial. Mereka bisa menjelaskan, tetapi tidak bisa mensistematikan realitas. Sementara dalam berpikir teoritik, kita didorong untuk mampu membaca realitas, sesuai dengan teorinya.  

Lantas, apa itu teori? Setelah para mahasiswa bertabur jawab. Akhirnya dikatakan oleh Prof. Hotman bahwa teori itu adalah alat untuk membaca kenyataan. Instrumen yang digunakan untuk mendekati atau mencandera realitas. Teori itu bagaikan konstruksi atas sebuah realitas. Teori itu sebuah sistematika, konstruksi atau abstraksi, sebuah realitas sosial. Di dalamnya juga terdapat proposisi, yang berupa sebab-akibat, yang menjelaskan suatu realitas sosial. Sebagai sebuah instrumen, akan berusaha untuk menjelaskan fungsi atau kegunaan suatu teori.

Dalam menyusun teori, kita akan lebih banyak memahami dan berusaha untuk mengkomunikasikan atau menjelaskan suatu realitas sosial. Semakin banyak menguasai teori, maka kita akan semakin banyak bisa membaca kenyataan (realitas) dan kemudian mensistematikannya.Lantas apa beda antara ilmu dan ngelmu? Jika ngelmu cenderung tanpa menggunakan teori, maka ilmu dituntut untuk memiliki dukungan teori. Jadi ilmu tidak hanya berdasarkan dari realitas saja. Lalu, kapan ngelmu akan bisa berubah menjadi ilmu? Bisa saja, asalkan ngelmu tersebut bisa melihat realitas dan menjawabnya dengan teori, berikut dengan metode, obyek, dan sistematikanya. Jadi sebuah ilmu itu, harus memiliki metodologi, obyek, dan sistematika tertentu.

Susunan teori, digunakan untuk membuat asumsi atau proposisi. Sementara metodologi adalah konsekuensi dari teori yang dipilih, yang ditentukan berdasarkan dari masalah dan latar belakang masalahnya. Semua hal itu dilakukan, agar tidak terjadi kebohongan atau kesalahan berpikir, sehingga menyebabkan terjadinya sesat berpikir. Hal itu disebut fallacia dalam istilah bahasa latin, atau fallacy dalam bahasa Inggris.

Dikatakan oleh Prof. Hotman, suatu teori itu ada kelebihan dan kelemahannya. Karena itu, ada yang berperan sebagai teori utama, dan ada juga yang berperan sebagai supporting theory. Dan untuk itu, memerlukan teori lain. Menggunakan beberapa teori untuk menjawab suatu perkara, disebut eklektik. Dalam ilmu sosial menurut Prof. Hotman, memang dikenal adanya sebuah keterbatasan. Sebuah pengakuan atas kelemahan studi. Biasanya terjadi, akibat adanya perbedaan tempat atau lokasi penelitian.

Lebih jauh, sebuah teori akan mengalami krisis, ketika ia tidak bisa digunakan lagi untuk membaca kenyataan. Kemudian terjadi anomali, krisis, hingga menyebabkan terjadinya revolusi berpikir. Saat itu terjadi, biasanya  akan muncul paradigma baru, yang berupa kumpulan-kumpulan teori. Demikian pula sebaliknya, ketika sebuah teori baru muncul, lalu ada paradigma baru, maka kemudian ia dihadapkan pada tantangan untuk menjawab persoalan terkini. Jika kemudian tidak mampu menjawab, maka kembali akan terjadi anomali, menghasilkan krisis, revolusi berpikir, hingga mengharuskan untuk segera melakukan upgrade terhadap suatu teori.

Hal ini yang kemudian mendasari pernyataan Prof. Hotman, bahwa pada dasarnya teori itu bukan untuk dihafalkan, namun untuk diinstrumentasikan. Jika demikian, maka kita menjadi mampu memahami dan dapat menjelaskan realitas sosial yang ada.  



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :