Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Sosiologi dan Positivisme
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 12 April 2012
kategori : Metode Sosial - 0 komentar

Kuliah perdana bersama Prof. Armada Riyanto dimulai pada hari Selasa (8/11) baru lalu. Setidaknya ada 5 buku yang dianjurkan menjadi referensi untuk mengisi perkuliahan Metode Penelitian Sosial ini. Mulai dari buku milik Bogdan and Taylor yang membahas tentang penelitian kualitatif, Alfred Schutz yang membawa filsafat fenomenologi kepada ilmu sosial dan juga tentang metode interpretatif, William A. Luijpen tentang fenomenologi dan humanisme, buku Robert Sokolowski tentang fenomenologi, serta J.J. Kockelmans yang mengulas tentang fenomenologi. 

Dijelaskan di awal, bahwa sebenarnya Sosiologi tidak hanya berisi tentang positivisme saja, melainkan juga terdapat interpretasi di dalamnya. Dicontohkan oleh Prof. Armada Riyanto, pada saat kita berbicara tentang kemiskinan. Lantas timbul pertanyaan, tentang apa itu kemiskinan? Demikian pula untuk menjawab pertanyaan tersebut, juga muncul aneka jawaban. 

Kemiskinan dapat diartikan sebagai kondisi kekurangan harta, dampak atas ketidakadilan, atau juga berarti akibat dari adanya sistem penyatuan kehidupan bersama. Logika distribusi Aristoteles, menjelaskan adanya pemaknaan secara sepihak. 

Paradigma kemiskinan, melukiskan tentang keberadaan kemiskinan yang berlapis-lapis. Terdapat lapisan-lapisan pengertian yang didukung oleh kehadiran fenomena kemiskinan. Lapisan-lapisan kemiskinan, menjelaskan adanya kepentingan-kepentingan yang berkecimpung dalam masalah kemiskinan, hingga melahirkan suatu fenomena.

Sehubungan dengan hal ini, masalah kapitalisme dapat dijadikan contoh yang memadai. Merujuk pada pendapat Max Weber, permasalahan ini tidak semata-mata berorientasi kepada harta, namun ternyata ada permasalahan nilai atau ideologi yang ada di sana. Seperti halnya tantangan penyusunan sebuah disertasi, contoh tersebut menurut Prof. Armada, dapat merubah tata sosietas yang ada. Keberanian melakukan auto kritik, merupakan tantangan yang perlu segera dijawab oleh para mahasiswa peserta program Doktor.

Contoh lain, ketika kita berbicara tentang kemajuan. Lantas, apakah itu kemajuan? Berbicara tentang kemajuan, tidak sekedar menyajikan data-data positivistik saja. Kemajuan bisa disebut sebagai hasil dari kian mudahnya kehidupan manusia. Namun bisa juga, dipandang sebagai tempat keberadaan relasi antar manusia. Selain itu, kemajuan bisa juga diartikan sebagai mentalitas instan, cerminan mental materialistik, atau bahkan sebenarnya berbicara tentang perbudakan manusia.    

Kemajuan, kemudian dapat kita interpretasi. Jika dipandang dengan “sangat ideologis”, maka kemajuan itu bisa kita maknai sebagai wujud mengabdi kepada penguasa. Pemahaman tentang “desa maju” misalnya, jika diinterpretasi secara ekologis, sebenarnya dapat berbicara tentang keindahan desa. Meski orang lain, juga bisa saja menyebut “desa maju”, sebagai desa yang sudah dialiri listrik, desa yang sudah melek internet, dan sebagainya. 

Kembali kepada positivisme, menurut Prof. Armada positivisme sebenarnya berisi semangat pembangunan, meski kemudian perlu untuk direvisi. Dikatakan oleh Prof. Armada, positivisme di Indonesia, terlihat menurun sejak runtuhnya era kepemimpinan presiden Soeharto.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :