Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Cita Rasa Ilmu Sosial
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 12 April 2012
kategori : Metode Sosial - 0 komentar

Dalam perspektif tentang agama, cita rasa ilmu sosial berbicara tentang agama itu sendiri. Menurut Prof. Armada, agama bercerita tentang bagaimana manusia menjalankan hidupnya. Ketika ia percaya, maka kemudian ia akan melibatkan diri. Sementara mengerti tentang dogma agama, timbul ketika kita mempraktekkannya. Kemudian karenanya menjadi bangga beragama. Setelah itu, melalui rasa bangga itu, lahir gairah beragama.

Lantas, bagaimana menjadi religius itu? Menurut Prof. Armada hal itu sanggup menciptakan relasi ketika manusia bersolider dengan yang lain. Menjadi religius bagi orang Jawa misalnya, maka menurut mereka, "sejak lahir orang Jawa sudah religius".

Hal yang paling mendasar, misalnya “Jangan lakukan kepada orang lain, sesuatu yang tidak ingin orang lain lakukan kepada kita!” Hal ini seperti halnya pernah diutarakan oleh Plato, tentang golden rule (peraturan kencana). Ia memerintahkan kita agar mencintai orang lain, seperti halnya mencintai diri sendiri. Mengatasi apapun, akan mengantar pada definisitas, sehingga terpampang sebuah toleransi. Sehingga setiap frasa yang memerintah untuk menyakiti orang lain, maka itu dianggap tidak syah. 

Namun apa yang terjadi saat ini, menurut Prof. Armada, agama seakan sedang dibajak. Saat ini banyak kutipan suci yang telah disitir untuk pembenaran atas tindakan kekuasaan, atau untuk mengadili orang lain. Padahal semestinya, mencintai orang lain bukan hanya karena ia baik terhadap kita. Sehingga dalam hal ini, terjadi perang politik. Dikatakan oleh Prof. Armada, rule of religion merupakan bagian dari konflik politik, yang berujung pada modernitas, yang juga berperan dalam terjadinya konflik. 

Jadi beragama saat ini cenderung merupakan cerminan rasa bangga menjadi benar. Meski karena itu, tindakannya justru tidak menunjukkan cinta. Beragama dapat membuat orang lain menderita, atau juga merasa iba, menimbulkan perasaa sayang hingga rasa belas kasihan. Menurut Prof. Armada, agama itu harus mampu mengkontribusi. Yakni sebagai global compassion, dan harusnya malah jangan menjadi eksklusif. Agama sebagai kontributor, diyakini akan mampu member toleransi dan apresiasi.    



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :