Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Panorama Phenomenological Research
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 12 April 2012
kategori : Metode Sosial - 0 komentar

Penelitian fenomenologi merupakan bagian dalam bingkai penelitian kualitatif. Dalam penelitian fenomenologi, research outcome tidak bisa diprediksi. Selalu ada “harga” dalam setiap catatan lapangan. Dikatakan oleh Prof. Armada, bahwa fenomenologis merupakan residu. Bahkan “ampas”-nya pun, sebenarnya masih bisa dipublikasikan. Tidak seperti halnya positivisme yang meletakkan data, dimana informan memberikan informasi kepada peneliti. Dalam fenomenologis menurut Prof. Armada, subyek penelitian malah dipandang sebagai pencetus produk dari world views. Subyek dipandang memiliki pemahaman lebih. Mereka bukan lagi sebagai obyek penelitian, namun disebut sebagai sumber penelitian. 

Fenomenologis berisi kebenaran yang merujuk pada pengalaman subyeknya dalam memandang dunia, menurut keseharian mereka. Tidak mempertanyakan tentang kewibawaan kebenaran, karena kebenaran-lah yang akan menuju kepada obyeknya. 

Dalam perkembangannya, penelitian fenomenologis telah merambah pada wilayah makna. Penelitian berbicara tentang subjective understanding. Menggunakan observasi partisipan dan berusaha untuk menjadi bagian dari mereka yang sedang diteliti. Fenomenologis banyak mendiskusikan tentang dokumen personal, tidak harus melibatkan banyak orang dalam sejumlah tertentu sebagai obyek penelitian. Penelitian fenomenologis meraup sketsa dari pengalaman keseharian mereka yang akan diteliti, dan menggunakan wawancara terbuka. Bahkan dapat menampung keluh kesah atau ratapan dari mereka yang sedang diteliti. 

Jadi penelitian ini tidak sekedar berbicara tentang sebab-akibat, namun harus mendengarkan, dan masuk ke dalam pemahaman mereka. Fokus pada “bahasa” yang disampaikan oleh subyek penelitian. Menangkap “bahasa” kecemasan, ketakutan bahkan kegembiraan yang tercermin dari subyek.     

Seperti dikatakan oleh Prof. Armada, makna “benar” tidak perlu untuk dikonfirmasi. Dalam penelitian fenomenologis, subyek dibiarkan berjalan dan berbicara sebagaimana world views mereka. Ketika makna berhasil diperoleh, kemudian baru dihadapkan dengan teori-teori yang sudah mapan. Dalam hal ini, fenomenologi tidak berangkat dari permasalahan (cause effect), namun dari manusia itu sendiri. 

Penelitian fenomenologis berbicara tentang deskripsi dan pemaknaan. Baik itu makna etis maupun inter-subyektif. Fenomenologis juga tunduk pada proses metodologis untuk mengelola dan memaknai pemahaman dari subyek penelitian. Menurut Prof. Armana, penelitian fenomenologi merupakan produk dari post ideology yang didominasi oleh ideologi moralitas. Sementara di sisi lain, ideologi itu sendiri juga dipengaruhi oleh kekuasaan. Dalam hal ini, kebenaran sejarah, dapat menjadi alat kekuasaan. Dikatakan oleh Prof. Armada, bahwa perspektif penelitian fenomenologi adalan naratif, dimana subyek akan menarasikan pengalamannya. 

Pengetahuan itu adalah kesadaran aku. Di sisi lain, fenomenologi berbicara tentang proses “kembali kepada perjalanan manusia”. Dikenal sebagai ilmu pengetahuan yang detil atau teliti, yang ingin memperoleh pengetauan yang sebenarnya tentang makna. 

Dalam kaca mata filsafat, hal ini berusaha untuk menggali pengalaman dari diri manusia itu sendiri, karena filsafat itu adalah milik dari manusia. Dalam perjalanan era Descartes kepada Husserl, diyakini bahwa “saya berpikir, maka saya ada!” Menurut Husserl, kesadaran itu selalu menyatakan tentang kesadaran akan “sesuatu”. Jadi, ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu. Dalam hal ini filsafat berpikir adalah filsafat kesadaran. Dikatakan bahwa berpikir tentang sesuatu, maka juga akan bertanya tentang sesuatu. Bertanya tersebut, dianggap merupakan tanda-tanda orang yang berpikir. Jadi pengetahuan tentang sesuatu itu, tidak berdasarkan label atau “cap” yang sudah diberikan sebelumnya. 

Dalam fenomenologi, bergulat pada ranah di antara ide dalam subyek dan realitas yang ada dalam obyek. Fenomenologi melakukan bridging. Menjembatani dan bukan berusaha untuk menandai, melainkan memaknai. Dikatakan oleh Martin Heidegger, bahwa fenomenologi harus membuat nyata, tentang apa yang tersembunyi di alam nyata. Fenomenologi disebutnya sebagai filosofi, sains dan metodologi. Di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan dan pemahaman yang menempel dalam keseharian, hingga tidak bisa direduksi melalui angka atau statistika. Metode fenomenologi, terdiri dari:

  • Interview : Terdiri dari personal experience, everyday life, life in the world, narrating experience dan observation.
  • Coding Categorizing : Menyangkut kategorisasi terhadap temuan fenomena
  • Drawing Conclusion : Sehubungan dengan describing, analyzing, dan drawing conclusion.

Adapaun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian fenomenologis, sebagai berikut.

  1. Pre field Work : Mengurung setelah memilih perkara yang menarik. Menentukan lokasi penelitian, hingga menentukan subyek penelitian
  2. In the field : Melakukan observasi dan wawancara
  3. Work with data : Melakukan pengkodean dan kategorisasi
  4. Finding : Mendeskripsikan, menganalisis dan menggunakan teori. Penggunaan teori ini dimaksudkan, agar makna yang disajikan bisa menjadi ranah keilmuan, dan tidak lagi bersifat “lokal”.

Dalam hal ini peneliti didorong agar dapat menyimak realitas sosial sebagai sebuah perkara yang menarik untuk dieksplorasi, sebagai sesuatu yang fenomenal. 



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :