Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Ilmu Pengetahuan Sosial dan Realitas Obyek
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 12 April 2012
kategori : Metode Sosial - 0 komentar

Menurut Prof. Armada ilmu pengetahuan sosial (social science) menjelaskan realitas obyek. Berusaha untuk melukiskan realitas sosial setepat dan sedekat mungikin. Berusaha untuk mengerti tentang obyeknya, memahami realitas sebagaimana adanya. Pengetahuan itu sendiri, merupakan dorongan untuk mengetahui obyeknya. Berbicara tentang bagaimana sang subyek itu “tahu” tentang obyeknya. Jika menggunakan bahasa Aristoteles, diterangkan bahwa pengetahuan itu ingin mencari “kebenaran” dari obyeknya. 

Jadi, apa yang dipikirkan, berkisar antara ide dan realitas obyek, yang sebenarnya tidak sama. Di sini, apa yang sedang dipikirkan, belum tentu sama dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Berdasarkan pendapat Aristoteles, pengetahuan itu menguji makna yang paling benar, merujuk pada realitas tertentu. Pengetahuan disebut kebenaran obyektif, sesuai dengan obyeknya, berasal dari sebuah koresponden bersama obyeknya. Sementara pada era skolastik, pengetahuan itu dipandang sebagai pencarian subyek dan akal budi terhadap Tuhan, hingga menemukan kebenaran.

Menurut Husserl, kebenaran itu ilmu pengetahuan sebagai milik manusia yang dipengaruhi oleh pengalaman (world views). Untuk itu keadilan itu dapat dijawab oleh pernyataan,”Jangan bertanya, tapi dengarkan!” Mendengarkan kepada siapa yang mengerti, bukan secara tekstual namun pada apa yang bersumber pada pengalaman. Jadi, pertanyaan bukan lagi terletak pada siapa yang benar? Namun, sudah berbicara tentang makna untuk memahami, hingga bisa diinterpretasikan. Memahami manusia dengan segenap pengalaman dan kesadarannya terhadap world views. Meletakkan kebenaran tentang obyek.

Dalam hal ini, aktivitas-aktivitas subyek terdiri dari:

  1. Mengingat (remembering) pengalaman atas peristiwa
  2. Menyerap (perceiving) pengalaman tentang sesuatu
  3. Menghendaki (desiring) keindahan atau kebaikan

Dalam ilmu pengetahuan sosial, studi yang banyak berbicara tentang makna adalah hermeunetika. Berasal dari pemahaman bahwa dewa yang membahasakan sabda para dewata, agar bisa dimengerti oleh manusia. Makna itu sendiri, berbicara tentang apa yang ada di balik teks. Tentang intense maksud dari author. Berbicara tentang makna, akan bersinggungan dengan studi historis yang merupakan kritik terhadap teks. Teks di sini, bukan hanya tulisan atau buku, tetapi bisa juga tentang fenomena atau realitas. Agar kontekstual, maka harus memahami maksud dari si author, disamping memahami bahwa sejarah adalah milik dari jamannya.    

Menurut pendapat Gadamer, makna itu adalah apa yang ada di depan teks bagi para pembacanya. Makna adalah” itu yang berarti untukku”. Dalam hal ini, peran author diindahkan, hingga intensinya menjadi terbatas. Apa yang terjadi di jaman tersebut, adalah milik masa lalu. Di siis lain, makna dianggap sedang bergumul dengan hidupnya sendiri, sehingga tetap ada makna kekinian di dalamnya. Dicontohkan oleh Prof. Armada, tentang apa yang menimpa saudara kita di tanah Papua. Di sana, teks telah digunakan untuk pembenaran. Namun, bagi orang Papua, janji pembangunan, sudah tidak “bermakna” apa-apa lagi.

Lain dari itu, ilmu dan metodologi sebagai pencarian makna, menempatkan ide sebagai pengarahan intensionalitas kepada realitas obyek. Setelah itu muncul pertanyaan, apakah realitas obyek tersebut benar? Dalam hal ini, ide bersumber pada aktivitas yang menghendaki atau menginginkan kebaikan atau keindahan. Dijelaskan oleh Prof. Armada, bahwa ide merupakan akivitas dari akal budi, yang berkenaan dengan aksi mengingat, menyerap dan menghendaki. 



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :