Ayo Sekolah

Nilai Terbaik, bukan dari Angka Terbaik

Pemikiran Ilmu Sosial
diposting oleh yuniawan-pasca11 - 04 September 2013
kategori : Filsafat Sosial - 0 komentar

Belum genap dua hari lalu, Prof. Soetandyo Wignjosoebroto, Guru besar dan pendiri FISIP Universitas Airlangga telah meninggal dunia. Kiranya, banyak murid-murid beliau yang kini sudah menjadi "orang besar" karena bimbingannya. Saya pikir, saya beruntung pernah diajar secara langsung oleh "Prof. Tandyo", begitu muridnya biasa menyapa. Sepeninggal beliau, tidak ada yang bisa kami lakukan sebagai murid, selain mendoakan dan menjaga pengetahuan yang pernah diajarkannya, mengembangkan semampunya, sehingga dapat menjadi lebih bermanfaat. 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk itu, melalui secuil tulisan kecil ini, saya rasa jika ternyata uraian ini bermanfaat bagi yang membacanya, biarkan itu teriring sebagai modus "ilmu yang bermanfaat" sehingga dapat menjadi "teman" bagi Prof. Tandyo selama berada di alam kubur. Namun jika ternyata, berseberangan dengan pemikiran beliau, atau bahkan menjadi tidak bermanfaat, semata-mata itu hanya karena kebodohan saya sebagai murid, yang belum dikaruniai kemampuan untuk menterjemahkan pemikiran Prof. Tandyo, sehingga sedemikian rupa mampu membawa manfaat, seperti yang semestinya diharapkan. Jadi, kembali saya nyatakan, bahwa jika ternyata uraian ini tidak tepat atau tidak sesuai, itu memang bersumber dari keterbatasan pemahaman saya pribadi sebagai murid.

Baiklah, ingatan akan saya sandarkan kembali pada pertemuan dengan Prof. Tandyo di suatu siang, pada tanggal 18 Oktober 2011 silam. Kala itu, Prof Tandyo menjelaskan perihal normatif dan sains dalam pemikiran ilmu sosial. Menurut beliau, pemikiran ilmu sosial itu, disebabkan oleh pendekatan dan pangkal berpikir (paradigma) yang berbeda.

Pemikiran normatif, lebih banyak berbicara tentang baik dan buruk, ada dan tidak ada, yang lebih dikenal sebagai positivisme. Sementara sains, merupakan normologi saintifik. Dalam hal ini, age of science, dasarnya adalah agama. 

Sehubungan dengan pangkal berpikir, paradigma dapat dinyatakan sebagai basis asumtif yang akan menjadi pangkal bertolak dari seluruh penalaran yang menghasilkan bangunan pengetahuan baku yang dipercaya akan lebih cepat untuk dapat menyelesaikan permasalahan dasar yang dijumpai dalam kehidupan manusia. Menurut Prof Tandyo, basis-basis asumsi dalam berpikir, adalah filsafat.

Lalu. Prof. Tandyo mengajak seisi kelas untuk menyimak contoh-contoh pemikiran ala Aristotalian, yang normatif, yang dipenuhi kata "yakin", berisikan sesuatu yang "sempurna" atau "tak sempurna". Sementara Galilean, cenderung memiliki pemikiran yang preskriptif saintifik. Berbicara tentang keberadaan, dilihat dari "ada wujud" atau "tidak ada wujud". 

Paradigma Aristotalian lebih bersifat normatif dan teologik. Artinya, mereka lebih berpegang teguh kepada suatu ajaran tertentu, atau keyakinan. Sementara paradigma Galilean, lebih ke arah normologik - saintifik. Misalnya saat Galilean melihat suatu kekisruhan (chaos), itu dapat dipahami sebagai ide manusia (humanisasi) yang menggunakan nalarnya, sementara bumi dipandang terus berproses, dan kemudian melihat chaos sebagai kekisruhan. Pernyataan yang terkenal dalam hal ini (Sains-Galilean), bahwa chaotic cause effect order!

Dikatakan oleh Prof. Tandyo, bahwa sains itu merupakan dunia apa adanya. Jadi dalam sains, tidak bisa hanya berbicara tentang buruk atau baik, namun lebih akan berbicara tentang terjadi atau tidak terjadi? Sesuatu itu berfungsi atau disfungsi? Jadi, saintifik itu akan sering bertanya "why?" dan tidak melihat sesuatu itu sempurna ataukah tidak. Prof. Tandyo menambahkan, bahwa dalam norma itu ada alat ukur dan dunia ide. Dunia ide, itu merupakan sesuatu yang belum terjadi, namun akan "dijadikan", sehingga merupakan suatu dunia keharusan. Sementara alat ukur, akan digunakan oleh norma untuk menolak kesempurnaan.

Dalam pre sains, permasalahan itu tidak bisa diselesaikan oleh ilmu normatif yang berbasis asumsi. Dalam ilmu normatif, ada pergeseran, dan pergeseran tersebut akan berpangkal pada sains. Pada jaman Da Vinci misalnya, kala itu pengetahuan belum ada. Yang ada hanyalah rasa ingin tahu yang besar, dan melahirkan generalis. 

Pada era Humaniora Aristotelian, juga dikenal sebagai The Pre - Established Order, dimana segalanya masih berstatus Gods order. Berbicara tentang perfect and eternally. Dalam pandangan teologik mereka, disebutkan bahwa Tuhan menciptakan dengan niat kehendak Tuhan. Berikutnya, Aristotelian juga berbicara tentang normative in character. Sesuatu yang ada di dunia ini, berjalan seperti apa yang sudah seharusnya. Jadi, lebih banyak berbicara tentang "good and beauty". Lantas, Arestotelian juga sering berbicara tentang ethics and aesthetics.   

Sementara ciri-ciri Galilean, sudah mulai berbicara tentang renewed order. Mempercayai adanya proses yang acak dan berjalan terus-menerus. Melihat dunia (sein welt) seperti halnya apa dunianya itu. Mereka juga cenderung berpikiran logis.

Berikutnya, sejak abad ke-10 pemikiran logis kian menghantaarkan kepada sains, dan mulai tidak menggunakan bahasa latin, melainkan bahasa Inggris. Pada masa itu, nasionalisme menguat, dan kebetulan Galilean lebih bisa menjawab, tentang Pendekatan Bangsa. 

Menurut Prof. Tandyo, munculnya sains, diawali oleh kian banyaknya permasalahan yang tidak bisa dijawab oleh alkitab. Sementara sains, menyandarkan diri pada cara berpikir empirik, merujuk pada ide, kemudian berujung pada rasio yang berupa akal pikiran manusia. Dalam hal ini, sains juga sempat disebut sebagai kelahiran kembali manusia dengan akal pikirannya, yakni pada zaman renaisance. Zaman ini sering disebut sebagai era lahirnya humanisme sekularisme, sekaligus dirujuk sebagai kelahiran sains. 

Lebih jauh, Prof. Tandyo menjelaskan bahwa masyarakat manusia, itu merupakan obyek sains. Menurut beliau, ini diperlukan sebagai strategi makhluk untuk bertahan, agar bisa eksis di alam ini. Dikatakan oleh Prof. Tandyo, bahwa society itu sebenarnya mengulas tentang komunikasi dan pembagian kerja. Sehubungan dengan sains, maka sains dalam hal ini, hanya akan berbicara tentang true or false. Mengulas tentang betul atau keliru, sesuatu itu terjadi atau tidak terjadi? Jadi, sains bukan berbicara tentang right or wrong? Jika benar atau salah, itu sudah menyangkut persoalan tentang ada atau tidaknya aturan yang dilanggar? atau mungkin cocok atau tidaknya sesuatu dengan norma yang ada? dan seterusnya.

Dalam hal ini, jika menyangkut soal kebenaran, maka benar itu tidak bisa dibantah, karena memang menyangkut soal keyakinan. Karenanya, maka sains memang tidak dalam konteks membicarakan sehubungan dengan hal tersebut, karena hanya membicarakan sesuatu, jika ada wujudnya (perspektif saintifik).

Di akhir pertemuan, Prof. Tandyo menyisipkan pesan, bahwa sebuah disertasi itu sejatinya merupakan suatu "pemberdayaan". Harus bisa berbicara tentang beyond science, dan juga mampu menyumbangkan diri untuk kemanusiaan. Disertasi menurut Prof. Tandyo, sudah berbicara tentang what next? Ini akan diabdikan untuk siapa? Apakah bermanfaat bagi kemanusiaan? "Jangan memilih bunga mawar, lebih baik menjadi rumput teki!", demikian tukas Prof. Tandyo.



Tinggalkan Komentar
Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :